Belum Selesai????
4 Desember 2018
Pasca Maghrib
Sama sekali ngga pernah kusangka bahwa anxiety september lalu ternyata belum berujung hingga hari ini.
Semua udara yang kuhirup setelah lepasnya percobaan itu ternyata hanya sinyal yang melenakan yang harusnya membuatku siap bahwa akan ada kemungkinan menyakitkan lagi ke depannya.
Tidak jauh bahkan menunggu bulan. Dalam hitungan jari saja, aku hanya bisa duduk diam, entah melongo, menganga dengan perasaan sedih dan egois... melihat semuanya akan meraih ranselnya masing-masing dan pergi dengan mantap.. dan meski tidak mungkin, aku bahkan sudah merasa tatapan mereka memandang rendah padaku. Si Orang Bodoh.
Yang kembali masih terus akan berkutat di batu pijakan ini. Yang dibanggakan sebagai tempat singgahan, yang padahal sudah dicintai sedemikian dalamnya.
Serangan ini menghentakku... menyadarkanku untuk ke sekian kalinya keberadaanku sebagai makhluk yang sebenarnya kecil.
Aku menutup diri dari kenyataan dan sempet diberi harapan yang ternyata palsu namun kunikmati..
Bukan lagi bisa berkata kelak tiba saatnya.
Tapi inilah saatnya..
Bagaimana aku harus bersikap?
Bagaimana aku harus menghadapinya?
Aku menolak memberi selamat atas pencapaian semua yang berhasil.. lantas apakah aku jadi salah?
Apakah aku harus turut juga merayakan kebahagiaan meski dengan wajah palsu?
Atau benar begini? Memberikan pemakluman, terus menerus pada diri sendiri bahwa lebih baik menarik diri dengan dalih menganut kejujuran diri?
Pikiran buruk yang menghantuiku sejak September itu.. ternyata belum selesai.
Pasca Maghrib
Sama sekali ngga pernah kusangka bahwa anxiety september lalu ternyata belum berujung hingga hari ini.
Semua udara yang kuhirup setelah lepasnya percobaan itu ternyata hanya sinyal yang melenakan yang harusnya membuatku siap bahwa akan ada kemungkinan menyakitkan lagi ke depannya.
Tidak jauh bahkan menunggu bulan. Dalam hitungan jari saja, aku hanya bisa duduk diam, entah melongo, menganga dengan perasaan sedih dan egois... melihat semuanya akan meraih ranselnya masing-masing dan pergi dengan mantap.. dan meski tidak mungkin, aku bahkan sudah merasa tatapan mereka memandang rendah padaku. Si Orang Bodoh.
Yang kembali masih terus akan berkutat di batu pijakan ini. Yang dibanggakan sebagai tempat singgahan, yang padahal sudah dicintai sedemikian dalamnya.
Serangan ini menghentakku... menyadarkanku untuk ke sekian kalinya keberadaanku sebagai makhluk yang sebenarnya kecil.
Aku menutup diri dari kenyataan dan sempet diberi harapan yang ternyata palsu namun kunikmati..
Bukan lagi bisa berkata kelak tiba saatnya.
Tapi inilah saatnya..
Bagaimana aku harus bersikap?
Bagaimana aku harus menghadapinya?
Aku menolak memberi selamat atas pencapaian semua yang berhasil.. lantas apakah aku jadi salah?
Apakah aku harus turut juga merayakan kebahagiaan meski dengan wajah palsu?
Atau benar begini? Memberikan pemakluman, terus menerus pada diri sendiri bahwa lebih baik menarik diri dengan dalih menganut kejujuran diri?
Pikiran buruk yang menghantuiku sejak September itu.. ternyata belum selesai.
Komentar