------------------------------------------------------------------------------------------------

 

28 JUNI 2023 19.34 

Halo, hai, hehe…

Gimana cara ngawalinnya ya? Aku juga bingung.

Aku cerita sedikit ya. Tapi aku gatau juga deng mau mulai gimana. Aku prediksi sih kalo ini nanti bakalan panjang. Semoga kamu gak malah jadi ilfeel, ya. Plis baca sampai selesai, ya.

Well, ada banyak hal-hal yang sebelum ini bikin aku pengen jadi impulsif. Kayak aku udah ga peduli mau bakal gimana, apa akibatnya, dll. Aku banyak terpicu sama hint-hint, spekulasi, dan prasangka yang terlanjur jadi besar di kepalaku sendiri. Tapi kemudian aku selalu surut lagi, selalu begitu. Aku terpikir sama seluruh usahaku selama ini kayaknya bakal lenyap kalo aku impulsif, dan percaya gak percaya, itulah hal yang amat sangat aku takutkan selama kurang lebih 10 bulan kita dekat, atau setidaknya, menurutku kita dekat.

Bisa dibilang aku menikmati semuanya, semuanya selama kita dekat. Aku senang sama semua penerimaan kamu yang begitu baik. Seumur hidupku, aku gak banyak dekat sama cowok dan kenyataan bahwa kamu enjoy berhubungan sama aku, tanpa berpikir aku orang baru, tanpa melihat I’m even older, it means a lot. Bahkan belakangan kamu makin casual aja ke aku, itu bikin aku seneng karena kayaknya usahaku agak ada hasilnya gitu, kwkwk. Aku suka karena aku berkesempatan menunjukkan real persona aku ke kamu.

Aku amat sangat paham kalo kamu itu hanya menjalankan tugas sebagai manusia ciptaan Allah yaitu jadi manusia yang baik dalam hubungan antar sesama. Tapi kemudian aku harap kamu bisa maklum kalau aku bahkan suka melihat itu sebagai bentuk kecil penghiburan diri. Aku seneng banget terutama selama kegiatan yang barusan lewat, momen di mana kamu care sama aku soal konflik sama sesembak di kantor, kamu bahkan spare ur time buat dengar penjelasan aku. Sumpah, aku seneng kamu percaya aku punya alasan di balik tindakanku dan kamu mau dengerin. Aku di situ aslinya takut kamu bakal mikir aku kasar, ga punya perasaan. Tapi lebih jauh, ternyata kamu ngoreksi aku, sumpah aku super bahagia hari itu.Terima kasih, ya.

Begitulah selalu setiap aku sendiri terbuai sama kesenanganku, aku selalu diingatkan kalo “di antara kita gak ada apa-apa, aku ga ke mana-mana”. Aku bahkan tau aku ini ada di dalam jurang friendzone teramat dalam, hehe. Setelah aku merunut lagi ke belakang, aku kira aku ini sudah cukup menunjukkan kalo i'm totally into you, tapi kok anehnya, sebenarnya yang aku lakukan ini justru kebanyakan sikap sebagai teman profesional ya, hahahaha. That's why, yang awalnya aku kira kamu harusnya bisa ekspektasi kalo i have feeling for you, jadi ke-counter sendiri karena aku gak jelas gini.  Aku sadar sih tapinya, makin ke sini, sedikit pun ternyata aku gak masuk dalam radar kamu as a woman. Aku sama sekali gak bisa nebak aku ini sebenarnya apa di mata kamu, selain ya....teman. Pun begitu aku menghibur diri bahwa seenggaknya aku bisa jadi teman yang menyenangkan ya buat kamu, kita cocok dalam situasi tertentu, kita sefrekuensi hobi, kita pokoknya benar-benar membuat relasi pertemanan yang baik. Aku yakin kamu ga bakal menyangkal itu. Mikirin itu aja aku bisa senang banget, hehe.

Aku selalu bilang juga ke diri sendiri, “Eh, kalo ketemu orang baik tu bersyukur, bukan malah naksir, ahahaha”. Dalam beberapa kesempatan, sebelum September itu (kamu tau gak kenapa aku sebut September? Hihi) aku sama sekali ga kepikiran to reach you. Aku gak ada sama sekali mikirin kamu (yaiyadongyaa, kita kan technically tidak kenal, pada dasarnya). Makanya aku lupa, dulu sebelum itu, aku ngapain sampe ga notis kamu sama sekali? (mungkin juga karena aku sibuk sakit sih, bego emang wkkwkw).

Kembali ke maksud dan tujuan, nih. Aku selalu berencana buat confess ke kamu. Bahkan agak lebih awal ya tuh niatnya, tapi aku sadar aku gila kalo tau2 confess, haha. Itulah maksudku impulsif. Ada banyak momen di mana aku di fase capek pake banget, aku mengharapkan kamu, aku kena rasa rindu yang terlalu berlebihan, aku maunya liat kamu terus (yaa u know, such a lovey-dovey-things, haha) dan memang bener aku sering di posisi begitu yang rasanya ga tertahankan, mau langsung confess aja. Aku paham banget rasa ini sepihak, cuma aku yang punya. Itu keliatan banget, sih. Aku kelimpungan sendirian, heboh sendirian, sometimes rasanya jadi kek orang bego. 

Sekarang, ke sini-sininya, aku paham kalo confess, somehow itu egois. Aku melibatkan orang lain dalam perasaan sepihakku, dan meski aku lega setelah aku confess, aku ga memungkiri kalo aku itu sebenarnya jadi egois. Rasanya seperti menodai hubungan pertemanan yang baik ini yaa, aku bahkan malah taroh beban di kamu. Aku selalu bilang, “nanti kalo confess dan hasilnya gak sesuai, ya udah aja. Jadi jelas jalannya”, tapi aku juga di kondisi itu bakal patah banget sih, haha. Yet it has nothing to do with you. Aku mau tegasin kalo apa yang terjadi setelah itu, bukan tanggung jawab kamu. Kamu ambil bagian sesuai porsi kamu aja. Untuk apapun yang mau kamu lakukan setelah itu, semua mutlak di tangan kamu.

Aku selalu bilang gak siap kalo itu terjadi, yet let what happened, happened. Aku udah pasrah dan terima kalo nanti semuanya hilang, kamu hilang. Kalo setelah itu kamu mau menarik diri, kamu ilfeel (I hope u won’t T_T), kamu ngejauh, gapapa kok. Meskipun ya, dengan gatau dirinya aku punya sedikit permintaan, aku gamau kamu jadi benci aku, dan bahkan permintaanku lagi yang agak muluk, aku mau kita tetap nge-game have fun, as usual, as nothing happened. Susah memang sih, pasti. Makanya niatku gak confess itu sampe selama ini, karena aku gamau kehilangan semuanya. Itu horor buat aku

. Satu hal pasti, aku bukan kedok selama ini karena CUMA mau deket kamu ya, aku nikmatin semua keseruan kita, pure. Mungkin iya awalnya, tapi sih aku dari dulu juga main game meskipun gak hardcore kayak kamu, hehe. So, aku seneng pasca kenal Genshin, itu real aku suka deh akhirnya, hihihi.

Ohiya, intermezzo dikit ya, aku mau sekalian kepalang tanggung aja ini ungkapin sekalian mumpung ini emang isinya soal curahan, haha. Aku pernah kan bikin story kalo aku gak sengaja ngehapus chat di WA, dan kamu tanyain ke aku soal itu, sumpah aku seneng banget loh kamu tanyain. Kamu kenapa baik banget sih, care banget. Panjang umur dan sehat selalu ya kamu. (Btw, itu tuh chat-nya kamu yang hilang HWAAAAAA :”((((. Aku stress berat, semua dari awal, hilang semuaaa, gambar dll. Bete bangeeeet!!)

FYI, aku tulis ini tanggal 28 Juni 2023. Biar kamu nebak sendiri kenapa aku sebut ini ya, pasti kamu tau. Ini juga yang bikin aku mantap buat segera confess, aku gak pungkiri aku ada ngerasa sedikit seneng, tentang seseorang yang entah sudah pergi beneran dari hidup kamu atau belum itu. Saat itu aku bodohnya seneng, tapi sumpah aku sakit banget liat kamu ternyata sakit, aku langsung nyesel kenapa sampe merasa seneng waktu itu. Aku harap kamu gak ilfeel sama alasan ini ya. Aku bener-bener sudah pengen gas aja ngomong ini waktu itu, tapi aku tau kamu butuh waktu, aku mau menghormati kamu, makanya aku baru sekarang mantapkan diri buat ini.I hope u got healed properly right now.

Ini pertama kali dalam hidupku aku kayak gini. Dulu aku pernah ada di masa kebodohan, di mana I let the one I love go before my eyes, I did nothing, so, aku gak mau jadi aku yang dulu, cuma bisa menyesal. Aku sangat menghormati prinsip kamu soal tidak minat pacaran, itu bagus banget kok.

Ya ampun, aku nulis panjang gini, emang mau kukasih kamu kapan ya? Hahaha. Kamu mungkin juga ada bingung sama beberapa hal di sini, nanti tanya aja kalo emang ada yang kamu bingung, wkwkkwk. Aku percaya sama kepribadian kamu yang cukup dewasa menyikapi ini (that's the one i liked from you), dengan kata lain segala kesiapanku nulis ini karena yakin kamu bakal keep it privately. Plis, tulisan ini hanya di kamu aja ya. Aku gapapa kalo kamu anggap aku lebay karena pake surat ala2 gini (coz it's indeed >//////<), tapi aku malu juga sih hehe. Aku berpikir ratusan kali nehh sebelum akhirnya nulis ini :”).

Sekarang, aku katakan lagi, setelah ini, terserah kamu. Kamu mau marah setelah baca ini juga gapapa. Aku minta maaf. Aku katakan kalo aku udah siap sama semua konsekuensinya. Sesuatu yang selalu aku tunda sampe hari ini, semata-mata karena aku terlalu takut.

Well, ini cuma tulisan (sorry kepanjangan yak) dan aku ini aslinya gak mau lewat tulisan. Ini buat antisipasi sih karena sebenarnya ini semua yang mau kusampaikan dan aku sama sekali ga pinter ngomong, haha. Jadi setelah kamu baca ini, terus ada momen tepat kita ketemu di manapun, aku bakal ngomong langsung, aku harus sampaikan langsung. Aku harap kamu gak menghindar, meskipun kalo kamu iya menghindar, itu kuanggap sebagai jawaban. 

Hanya saja kalo bisa, dengarkan ya, mas.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yah, kamu taulah!

goddamn shit

Memori 3 Oktober 2015