Sastra Kutai

Holaaa...
Selamat malam...
hemm, mungkin perlu juga ya untuk menetapkan salam khas, blog ini udah post ke-4, dan masih selalu bingung untuk nge-buka postingan dengan ucapan apa, selain salam formal...
bisa...bisa!
Bakal dipikirin dulu deh ^^

Well..
Saat ini sedang duduk di depan As*s ter-loppee dan siap posting cerita baru..
Cerita?
Gak tepat seperti itu sih...kali ini pengen posting salah satu karya monumental-ku ajahh... lebayy sangat yah peka nyebutnya monumental segala... wkwkwk..
Tapi, saya kan juga manusia biasa (halah) jadi pengen gitu nge-post karya saya yang saya banggakan.. (ga konsisten dah lu entar pake aku entar pake sayah :p)
Oke, jadi ceritanya yang bakal saya post ini adalah salah satu tugas akhir kuliah di semester 6 lalu.. yaahh, sekalian nge-backup getoo, kan karya monumental jadi harus disimpan di tempat yang awet... wkwkw..
Hem, lagipula tugas ini juga bersifat informasi, dan kaya nilai budaya Kaltim ya, jadi alangkah lebih baik dan berpahala (?) bagi saya apabila menyebar-nyebar-luas-luaskannya (Hiperbolak deh loo).
Tugas ini adalah tugas akhir mata kuliah Sastra Kutai yang saya ampu saat semester 6 lalu. Iya, saya sangat banggain karena ini tugas saya olah sendiri berdasarkan keterangan narasumber-nya. 
Yeaah! dan makin bangga lagi karena tugas ini bikin saya dapat nilai memuaskan di mata kuliah tersebut.. ihiiirrr.. 

Tapi, dalam postingan ini saya akan masukkan ceritanya dan beberapa hasil tugasnya aja alias ga satu laporan saya masukkin hehe (gaje deh katanya mau dibanggain :p) dikarenakan saya ga mau tekabbur eh takabur maksudnya ...
Langsung aja deh ya ini dia....

Upaya pembinaan, pelestarian dan pengembangan bahasa dan sastra daerah yang dilakukan oleh pemerintah adalah melalui penelitian oleh lembaga. Penelitian tersebut kemudian didokumentasikan agar dapat lestari dan dapat menjadi informasi untuk generasi muda di masa depan.
Manusia memiliki kecenderungan untuk mewarisi tatanan sosial sepanjang yang diketahuinya kepada generasi penerusnya. Dalam tugas ini, disampaikan beberapa bentuk tatanan sosial tersebut yang berasal dari legenda atau mitos suku Kutai  yang disampaikan oleh orang tua sebagai cerita pengantar tidur, atau memang sebagai cerita yang berupa kepercayaan dan diwarisi turun temurun.
Legenda masyarakat suku Kutai semakin lama semakin jarang dijumpai atau semakin sedikit orang yang mengetahuinya. Hal itu terbukti dari kenyataan yang ada sekarang bahwa generasi muda sekarang tidak bisa menceritakan tentang segala bentuk cerita lisan mengenai legenda masyarakat Kutai. Hanya beberapa orang tua saja yang masih mengetahui tentang beberapa ceritanya. Hal ini dikarenakan generasi muda kurang berminat mendengarkan legenda rakyat yang diceritakan oleh orang tua mereka
Beberapa alasan penulis membuat tugas ini adalah ingin menuliskan beberapa kisah kepercayaan suku kutai, sehingga tidak hanya berupa lisan saja, alasan selanjutnya adalah ingin menuntaskan rasa ingin tahu penulis tentang beberapa cerita kepercayaan suku Kutai.
Cerita yang akan ditulis dan dianalisis dalam makalah ini ada tiga, yaitu:
1.    Cerita mistis tentang “Buntat Lipan dan Buntat Babi yang dipercaya untuk memenangkan judi dan mengebalkan tubuh dari senjata tajam”
2.     Cerita mistis tentang pamali “perawan dan matahari naik”
3.   Cerita mistis tentang kepercayaan para istri suku Kutai jaman dulu untuk menundukkan suami.  
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1.      Cerita 1 “Buntat Lipan dan Buntat Babi yang dipercaya untuk memenangkan judi dan mengebalkan tubuh dari senjata tajam”

Asal-usul (dituturkan oleh informan berdasarkan pengalaman keluarga)

Cerita ini ramai menjadi kepercayaan masyarakat desa  Jembayan dan  dituturkan pertama kali pada informan sekitar tahun 2002. Mengenai sebuah “buntat” yang artinya batu. Batu yang disebut buntat ini adalah batu yang didapat dari binatang lipan dan babi. Ketika itu orang tua informan adalah seorang juragan kapal dan melakukan perjalanan sungai untuk mengantar kayu-kayu berakitan atau ponton menuju Jembayan. Saat itu rute pejalanan melewati suatu kampong yang bernama kampong babi. Ketika mengantar kayu-kayu rakitan tersebut melewati kampong babi, terlihat gerombolan babi yang lewat. Salah satu rekan orang tua informan kemudian mulai menuturkan cerita bahwa, “buntat babi” dan “buntat lipan” adalah batu langka dan keramat yang ramai dicari dan digunakan untuk bermain judi oleh warga setempat. “buntat babi dan buntat lipan” tersebut dipercaya membuat pemegangnya atau pemiliknya dapat memenangkan judi, dengan cara meletakkan buntat tersebut di atas kepala dan kemudian ditutup dengan topi. Intinya buntat tersebut tidak boleh terlihat oleh orang lain. Konon, buntat itu  membuat si pemakai dapat melihat kartu lawan sehingga bisa menang mudah. Yang dinamakan Buntat babi merupakan sebuah kayu kecil dan halus yang letaknya di dalam mulut babi berdekatan dengan taringnya. Tidak jelas apakah kayu tersebut merupakan anggota tubuh atau memang tersangkut karena suatu hal dalam mulut babi. Tidak semua babi  memiliki buntat babi.  Jika dilihat dari gerombolan babi, yang memiliki buntat babi biasanya adalah babi yang paling depan yang biasanya juga dianggap sebagai pemimpin gerombolan babi.
Buntat lipan sama kegunaannya dengan buntat babi, dan bahkan memiliki kegunaan lain. Konon, buntat lipan dapat membuat pemiliknya  kebal dari senjata tajam. Cara pemakaiannya, buntat lipan tersebut dipasang di mata ikat pinggang. Buntat lipan adalah barang langka. Yang dimaksud buntat lipan adalah batu kecil yang terletak di atas kepala lipan. Ada  juga yang mengenalnya sebagai “Mustika lipan”. Mustika lipan juga tidak dimiliki semua lipan. Lipan yang biasanya diambil mustikanya adalah lipan yang berwarna hijau, karena dikatakan lebih sakti. Mustika lipan adalah benda yang sulit dicari, mengingat, binatang lipan sendiri adalah binatang yang jarang dan sangat sulit dijumpai.

2.      Cerita 2 ”pamali perawan dan matahari naik”

Asal-usul (dituturkan oleh informan berdasarkan pengalaman keluarga)

Cerita ini adalah cerita yang berasal dari kampong Loa Ulung dan merupakan mitos yang diceritakan secara turun temurun dalam keluarga informan. Pada zaman sekarang cerita ini  dianggap sebagai pantangan dalam keluarga Kutai dan dilarang untuk dilakukan. Pantangan itu ialah, pamali bagi anak gadis yang perawan untuk tidur saat matahari naik. Menurut cerita, yang dimaksud saat matahari naik berkisar antara pukul Sembilan pagi hingga pukul dua belas siang. Konon, akibat yang timbul apabila dilanggar adalah anak gadis tersebut bisa “dinikahi makhluk halus” dan “bermain” dengan makhluk halus”. Kejadian tersebut dinamakan “pelakian”. Informan mengakui pernah melihat langsung orang yang mengalaminya. Latar tempat di Loa Tebu. Latar waktu cerita ini tidak jelas, namun informan adalah orang asli suku Kutai.  

3.      Cerita 3 ”kepercayaan para istri suku Kutai jaman dulu untuk menundukkan suami.”

Asal-usul (dituturkan oleh informan berdasarkan pengalaman keluarga)

Cerita ini merupakan mitos yang menjadi kepercayaan para istri suku Kutai zaman dahulu. Cerita ini dituturkan pertama kali pada informan sekitar tahun 1980. Dikatakan bahwa para istri dari suku Kutai pada zaman dahulu memiliki mantra atau ajian untuk membuat para suami mereka tetap “lengket” dan tunduk dalam rumah tangga. Kepercayaan ini diturunkan dalam beberapa generasi suku Kutai. Mantra atau ajian tersebut dilakukan dengan cara memberi guna-guna pada nasi yang akan disajikan untuk suami. Pada zaman dahulu, para wanita memasak nasi dengan menggunakan panci perak yang dipanaskan menggunakan kayu bakar. Setelah nasi matang, para istri itu kemudian berdiri di atas nasi yang  masih  di dalam panci  kemudian jongkok dan menutupi nasi itu dengan sarung yang dikenakan. Dilakukan selama beberapa detik, intinya adalah memantulkan uap nasi dengan anggota tubuh (maaf) bagian bawah si istri dan kemudian memantul kembali dalam nasi. Nasi itu kemudian disajikan ke pada suami. Cara tersebut dilakukan agar para suami tetap “lengket” dan tidak akan bisa selingkuh. Itulah kepercayaan para isri zaman dulu untuk menjaga suami mereka. Konon katanya, cerita ini merupakan versi lain dari nasi yang kita kenal dengan nama “nasi bekepor”.
 
 ......
.......
.......
.......
.......
Oke... 
Cerita yang saya post ini ada tiga.
Mengenai kebenarannya sendiri saya juga ga tau pasti karena informan saya juga diceritakan dari Ibu/Neneknya yang juga diceritakan oleh Ibu/Bapak/Neneknya lagi... terutama untuk cerita ke-tiga, adalah sebuah mitos yang mana belum pasti benar/tidaknya...jadi, untuk yang membaca postingan saya ini saya serahkan sepenuhnya untuk percaya atau tidak. Yang saya ingin ketengahkan adalah postingan ini murni untuk menginformasikan, tidak bersifat doktrin bin menggurui...
Well...
Sekian post hari ini, punggung tiba2 pegel aja berasa ada yang gelendotin ahahah, 
Sampee Joompa, Assalammualaikummm ^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yah, kamu taulah!

goddamn shit

Memori 3 Oktober 2015