Kebenaran hanya ada satu
22 Maret 2016
12.45 Wita
Aku
gak tau apa yang mendasari tulisan ini. Lebih tepatnya kenapa tiba-tiba ingin
menuangkannya dalam tulisan.
Mungkin
karena sebuah pengalaman yang baru kudengar tadi. Entahlah, ternyata hidup ini
benar-benar menyimpan misteri yang sedemikian tidak bisa diterima akal sehat.
Tidak salah, dan tidak benar juga. Aku sekarang sudah memikirkan banyak hal
tentang kebenaran yang sebenarnya bukanlah kebenaran.
Bingung?
Ya karena aku
yakin, kebenaran sebenarnya berbeda untuk tiap-tiap orang. Semua orang punya
kebenaran yang dipegangnya sendiri sebagai dasar hidupnya. Karena itu aku
sedikit menyangsikan istilah “kebenaran Cuma ada satu” ...
yang kalaupun
itu benar... bahwa kebenaran yang kita pegang masing-masing hanya satu, itu
absolut.
Akan
tetapi itu berarti sebenarnya kebenaran itu ada banyak, banyak karena tiap
orang memegang kebenarannya masing-masing dan jika berhubungan dengan
keyakinan, maka gak akan ada satu orangpun yang akan menyangkal itu.
Kembali
ke alasan. Well, ya.. barusan mendengar sebuah prinsip kehidupan seseorang.
Prinsip yang diyakininya sebagai kebenaran hakiki, karena itu berhubungan
dengan keyakinannya, kepercayaannya terhadap Tuhannya, atau setidaknya
pedomannya dalam menjalani hidup. Itu sudah termasuk hal yang berat karena
rupanya dari satu prinsip itu saja dia bisa menarik akar dan mencabangkannya ke
seluruh aspek kehidupannya.
Prinsip apa itu?
Vegetarian.
Atau yang
sudah berkembang lagi disebut Vegan.
Hari
ini barusan mendapat penuturan mengenai gaya hidupnya yang sudah terangkat
menjadi prinsip hidupnya. Secara awam aku mengetahui bahwa vegetarian adalah
gaya hidup di mana seseorang tidak lagi mengonsumsi hewani (dan nabati untuk
vegan) atau menganggap semua yang hidup atau bernyawa tidak lagi bisa untuk
dikonsumsi.
Menurutku
itu pilihan. Itu termasuk salah satu aspek kehidupan yang sudah menjadi kodrat
manusia bahwa manusia butuh makan. Itu
mutlak. Yang kusebut pilihan adalah segala apa yang kamu pilih untuk kamu
makan.
Yah, itu
sederhana.
Tapi, untuk
sebagian yang menjalani gaya hidup itu, itu tidaklah sesederhana itu. Aku tau
bahwa setiap agama yang mengatur manusia dalam aturan, tentu juga mengatur
makanan apa yang tidak dan boleh dimakan. Seperti aku mengenal halal dan haram.
Itu sekali lagi, mutlak.
Sekali
lagi, aku membuka tulisan ini dengan menekankan pada poin kebenaran. Yah,
kupikir sudah bisa ditarik benang merah dari situ. Bahwa ternyata kebenaran
yang aku tau tentu tidak sama dengan kebenaran yang mereka, para vegetarian itu
yakini.
Jika aku
menyebut itu hanya gaya hidup yang merupakan pilihan, tapi mereka tidak.
Bagi mereka
itu prinsip. Bagi mereka itu jalan hidup.
Tidak
sesederhana hanya memilih makan sayur dan buah untuk memenuhi nafsu makan
mereka. Bagi mereka itu tidak hanya perkara makan, bahkan sama sekali bukan
berdasar pada kebutuhan manusia untuk makan.
Lebih
jauh, menjadi vegetarian adalah pilihan hidup mereka yang menganggap dunia
begitu kejam. Oh ya tentu aku berlebihan menyebutnya. Tapi itu kesan yang
kutangkap dari penuturan dia tadi. Tidak banyak anak seusia dia bisa dengan
yakin dan mantap mengatakan prinsip hidupnya yang sebenarnya sederhana, tapi
kukuh dia pegang. Sorot mata, sikap dan gerak tubuhnya mengatakan hal yang
sama. Bahwa ternyata prinsip tersebut sudah mengakar di dirinya sehingga
mencabut prinsip itu sama dengan menariknya dari dasar dan hilang sama sekali
tak berbekas.
Kejam.
Itu
yang dia bilang. Dia tidak lagi tahan melihat semua yang bernyawa mati untuknya
hanya untuk menjadi makanannya.
Itu
cukup menjelaskan bahwa ternyata menjadi vegetarian benar-benar mengubah
pemikirannya dalam memandang hidup ini. Dia menjadi begitu berbelas kasih, dan
aku yakin dia benar-benar mengaplikasikannya dalam hidup nyata. Kamu bisa
bayangkan orang seperti dia pasti akan bersikap baik terhadap semua makhluk
bernyawa di sekelilingnya.
Kok
sejenak aku merasa menjadi orang yang dangkal? Tentu saja aku seperti
ditelanjangi. Aku yang lebih tua sekian tahun ini justru tidak pernah
memikirkan hal seperti itu. Yah, menangis tentu saja jika melihat sapi dipotong
ketika qurban. Tapi hanya itu.
Apa
aku lantas adalah orang jahat? Yang aku tau, atau kepercayaanku adalah bahwa
semua yang diciptakan di dunia ini tentu punya perannya masing-masing. Aku
tidak perlu menjelaskan tentang rantai makanan lah, tapi itu berhubungan. Ada
yang dimakan, ada yang memakan. Itu kodrat hidup.
Susahnya
adalah ketika tulisan ini sebenarnya dari awal sudah membawa satu kepercayaan
atau agama, yaitu yang diyakini si pemegang prinsip vegetarian itu.
Susah sekali
menulis sesuatu yang tidak berbau sara. Karena pola hidup vegetarian itu
sebenarnya sudah menjadi identik dengan salah satu kepercayaan/Agama tertentu.
Maaf
jika menyinggung. Sama sekali tidak bermaksud.
Tapi,
Hei... aku mengakui menjadi vegetarian sebenarnya adalah gaya hidup yang bagus
loh! Tentu saja sehat jika terus mengonsumsi sayuran dan buah kan? (bonus
langsing pula).
Karena itu
sebenarnya aku selalu menganggap menjadi vegetarian adalah pilihan sederhana,
sudah kukatakan kan.
Riskan.
Benar-benar riskan. Untuk seorang aku yang cetek ilmu pengetahuan apalagi ilmu
agamanya nulis beginian. Sejenak tadi ngerasa ini hal yang serius, dan tentu
saja hal ini serius.
Mungkin sudah
ya. Hanya aku ingin memaparkan pandangan saja tadinya. Sebuah tanya dalam hati
yang menggedor minta dibahas haha.
Dan,
lagipula ini kembali lagi ke awal. Soal kebenaran.
Bagi
dia itulah yang benar, aku tidak bisa bilang dia salah, karena sebenarnya
kuakui hal itu benar!
Tapi,
aku punya kebenaranku sendiri juga, dan itu berbeda dengan kebenarannya dia.
Dia juga tidak bisa bilang aku salah kan? Itu juga benar.
Jadi...
apa benar bahwa kebenaran punya kebenarannya masing-masing?
Komentar